RAW DATA – DATA MENTAH

Namanya Data Mentah pasti isinya data awal/dasar. Belum diolah apapun, mssih murni seperti dari data pengumpul data pertama.

Hm, menulis ini bukan berarti saya expert dalam data mentah dan pengolahan data mentah ya.

Saya menuliskan ini  berdasarkan pemahaman saya saja sewaktu membuka raw data dan ada keperluan membuka raw data.

Kalau saya bilang sih raw data itu bisa dianalogikan dengan banyak hal.

Misalnya saja dianalogikan dengan Memasak.

Raw Data  bisa dianalogikan dengan Bahan Mentah untuk memasak.

Sewaktu akan memasak biasanya kita mencari bahan mentah yang akan kita masak.

Semisal kita ingin memasak makanan dari ayam, maka kita biasanya akan memikirkan kita akan memasak ayam apa. Ayam goreng saja, Ayam goreng kreemes, Ayam gulai, ayam rendang, ayam semur dll. Kemudian kita akan mencari bummbunya . Bumbu dasar misalnya :bawang merah, bawang putih, cabai, garam.

Setelah kita menentukan kita akan memasak ayam apa. Contoh Ayam Semur.

Maka harus ada (versi saya )

Ayam

Garam

Bawang Merah

Bawang Putih

Kemiri

Ketumbar

Merica

Kecap Manis

Minyak Goreng/Zaitun

Kemudian saya ingin juga menambahkan lengkuas, pala, cengkeh,air.

Jika bahan-bahan yang kikta butuhkan tidak ada bagaimana? Tentu kita akan mencari/membelinya sampai bahan yng dibutuhkan lengkap. Atau membiarkan saja bahannya tidak lengkap dengan konsekusensi kita kekurangan rasa tertentu yang kita inginkan. Tapi jika ayamnya tidak ada, garam , Kecap manis tidak ada ? itu artinya kita harus mencari bahan-bahan itu. Karena mustahil bagi kita untuk membuat ayam semur, jika bahan utamanya saja tidak ada.

Sama halnya dengan raw data. Sejumlah informasi sudah tersedia di raw data. Maka data-data utama /data-data yng dibutuhkan harus ada. Jika tidak ada maka datanya harus dicari atau dilengkapi.

Bagaimana jika ayamnya ada tetapi ternyata ayamnya sudah rusak. Atau kecapnya kaduluarsa?

Mau dipaksakan masak itu ayam. Jadi sih ayam semur, tetapi ayam semurnya akan menjadi ayam semur yang tidak enak bahkan berbahaya. Ayam yang sudah mulai busuk , dengan kecap manis yang kaduluarsa. Secara bentuk memang mungkin bisa jadi semur tetapi rasa dan aroma bisa buruk.

Pengkomsumsinya bisa sakit.

Begitu juga dengan raw data. Jika data utama ada tetapi ternyata rusak/aneh dan dipaksakan maka data yang dihassilkan pasti tidak sesuai dengan aktual atau kebutuhan.

Maka agar ayam semur bisa dikomsumsi maka harus mengganti ayam dengan ayam yang bagus, dan kecap manis yang belum kaduluarsa. Begitu juga dengan raw data , data yang rusak/aneh harus diganti agar data yang dihasilkan bisa sesuai  dengan kebutuhan.

Ada bahan dalam memasak yang seandainya tidak dipakaipun tidak apa-apa. Masakan itu masih disebut ayam semur. Misalnya saja saya tidak mau memberi lengkuas, seperrtinya tidak masalah ya. Tetapi cita rasanya mungkin jadi tidak seperti ekspektasi. Dalam raw data juga begitu. Ada data yang seandainyapun tidak ada, data masih bisa memberikann informasi , tetapi mungkin ada hal-hal tertentu yang tidak sesuai dengan ekspektasi.

Setelah makanan dimasak, biasanya pengkomsumsi memberi komentar. Ada yang bilang enak, kemanisan, asin , anyep etc. Begitu juga data yang diiolah dari raw data tadi.

Maka terkadang untuk membuat masakan kita menanyakan bagaimana selera dari pelanggan yang akan memakan masakan kita. Apakah suka manis, benci bawang atau suka asin. Agar kita bisa memasak sesuai ekspektasi pelanggan. Begitu juga data, biasanya kita meminta data apa yang mereka mau , baru kita bisa mencari bahan-bahan untuk data kita dan bagaiman cara mengolah datanya.

Setalah masakan selesai bagaimana menyajikannya? Langsung dari penggorengan? Tidak tepat kali ya.Mungkin di taruh di piring yang tepat, diberi hiasan apalah. Tomat mungkin, atau daun mint atau apalah. Sama setelah data ada, penyajian data juga beragam. Mungkin diberi bentuk yang menarik, diagaram yang oke,infografik yang keren, sehingga pengkomsumsi data  selain mendapatkan data-data yang dibutuhhkan juga mendapatkan kesenangan sewaktu membaca data yang mungkin rumit.

Ada kan orang yang bergiitu mencicipi masakan langsung tau itu masakan kurang apa atau kelebihan apa. Lidahnya langsung bisa merasakan. Mungkin karena pengalaman atau karena latihan. Begitu juga dengan data, ada orang yang begitu lihat langsung tau ada data yang tidak beres.

Bahan dasarnya bisa saja oke, tetapi cara memasak dan yang mengolah masakan salah olah (apalagi amatir seperti saya)

Gosong mungkin. Nah data juga bisa dari raw datanya sudah oke punya, tetapi pengolahan yang salah. Kalau raw data bagus bisa diolah ulang datanya , tapi kalau masakan tidak bisa diolah ulang J. Kecuali mungkin diusahakn agar menjadi oke.

Aduh kenapa tetiba kepikiran nulis beginian ya. Sekali saya tidak mahir di raw data, saya hanya menuliskan apa yang terlintas di pikiran. Setidaknya kalau sudah tergambar jadi tau tindakan apa yang harus dilakukan jika sudah ngerti konsepnya.

Kalau bahan masakan saya rusak bisa jadi yang membeli teledor, atau tempat pembeliannya yang memang tidak bagus. Jika yang membeli teledor ingatkan si pembeli, jika si tempat pembelian yang bahannya memang jelek, mungkin harus ganti tempat belanja atau minta mereka memperbaiki kualitas bahan masakannya. Jika yang mengolah makanan yang yang tidak mahir, maka yang mengolah harus dilatih/latihan atau diganti. Jika yang mau makan yang tidak tau dia mau makan apa, maka silahkan si pemasak menanyakan dia mau makan apa, Mungkmin dengan memberikan gambar, menyebutkan nama makanan dll.

—————————————-

Jika saya ada di posisi pembeli  bahan: Saya  harus memastikan bahan yang saya beli bagus. Jika ada kerusakan saya harus inform pada sang pengolah bahan yang profesional untuk memastikan bahannya harus diganti atau si pemasak masih bisa mengolahanya menjadi sesuai keinginan si pengkomsumsi.

Jika saya Jadi sang pemasaknya: Jika saya belum mahir memasak maka saya harus rajin latihan dan mengasah kemampuan memasak saya. Atau saya bisa saja digantiikan degan pemasak lain.

Dan jika saya sang penyaji : Saya harus bisa memastikan masakan saya dari rasa dan penampilan layak untuk disajikan.

Jika saya sang penikmat makanannnya: Saya harus tau masakan apa yang ingin saya makan dan detail rasa yang saya butuhkan. Supaya sang pengolah bisa memask sesuai dengan yang saya mau.

Jadi semua orang adalah penting. J

Udah ah J. Laper. Makan dulu. Sang amatir yang ingin cerita unndur diri ya.

Salam Raw data.

Vince Hutagalung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: