Memoirs of Geisha – A Novel Which Makes Me Feel LIke I am A Little Lady.

IMG_20150629_104252[1]

Pertama sekali saya membaca novel ini, saya berpikir ” Oh , ini kisah tentang PELACUR”. Sampai ketika saya membaca lembar demi lembar buku ini, saya menjadi malu dengan pikirin kasar saya itu. Walaupun Geisha adalah seni, tapi mereka tetaplah wanita penghibur. Dimana penampilan adalah hal yang utama, dan keperawanan dilelang kepada penawar paling tinggi.

Adalah Chiyo gadis miskin cantik dengan mata indah biru kelabu, yang dijual ke rumah Geisha.Berulang kali melarikan diri dari rumah Geisha,sampai  akhirnya ia memutuskan menjadi Geisha. Pelajaran beratnya dimulai. Selain belajar merayu, dia juga belajar seni. Musik, menuang teh,menyanyi,menari, memakai kimono, dandanan rambut rumit, politik dan banyak ilmu lainnya.Itulah Geisha. Saya sulit menceritakan dengan kata-kata. Tapi saya menikmati novel ini. Geisha memanglah wanita penghibur, tapi mereka juga belajar banyak hal. Mereka juga belajar dari penderitaan dan harapan-harapan mreka yang tidak bisa terwujud.

Saya tidak berminat untuk menceritakan detail buku ini, sebaiknya jika temans tertarik, temans membacanya sendiri.

Pelacur dan Geisha itu sendiri dari novel saya yang baca ini berbeda.

Pelacur tidak dididik tetapi Geisha dididik dengan berbagai keterampilan. Obinya juga berbeda. Pelacur obinya ada di depan dan kimononya tidak berlapis-lapis, sehingga memudahkan pasangannya membuka kimononya, Tetapi Geisha, Kimononya rumit dan berlapis-lapis, dan ikatan obinya dibelakang.

Yah pada dasarnya tetaplah wanita penghibur, hanya mungkin kastanya berbeda.

Sewaktu membaca novel ini, saya berasa menjadi “a liitle Lady”.Terkadang wanita terhormat itu tidak bsia dinilai dari status sosialnya. Saya berasa menjadi sedikit lebih dewasa sewaktu membaca novel ini :). Buka karena novel ini saru loh, tapi karena gadis kecil ini  sanggup menanggung permsalahan hidupnya. Belajar keras dan berani menjalani kehidupannya yang tidak gampang.

“Pelacur” kata-kata itu menajdi sulit keluar dari mulut saya. Karena kesannya menghakimi dan mengejek.Siapapun mereka , dimanapun mereka juga manusia yang punya pergumulan dan peperangan sendiri dalam hidupnya. Setidaknya saya belajar menghormati orang lain lewat novel ini. Walaupun kalau saya dipaksa memilih, saya lebih memilih mati kelaparan daripada harus menjadi wanita penghibur.

Cerita ini sedih tapi juga powerful menurut saya. Bukan cerita cengeng. Indah juga tentunya.

Hmm, aduh baca sendiri saja novelnya kalau tertarik ya temans. Saya tidak pintar membedah buku hahahaha.

Selamat Membaca

Salam

Vince Hutagalung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: