To Kill A Mocking Bird – Buku Penghangat Hati.

IMG_20150715_094256[1]

“You never really understand a person until you consider things from his point of view. Until you climb inside of his skin and walk around in it.”   Salah satu kutipan dalam buku ini. Kutipannya saya ambil yang  bahasa Ingris bukan karena biar keren, tetapi untuk kalimat ini enatahlah kenapa kalau dibahasa Indonesiakan artinya berkurang :).

Buku ini menurut saya buku yang hangat.Walaupun saya sedikit banyak melupakan detail dalam buku ini. Saya membaca buku ini kira-kira 4 atau 5 tahun lalu.Dan terpikir ingin menulis sedikit tentang buku ini, karena habis memilah-milah buku bagus dan rusak. Ya buku rusak yang terkena banjir masih saya simpan.Tetapi tampaknya sebagian besar buku-buku itu harus saya relakan dibuang karena rusak. Dan saya menemukan buku  ini masih utuh. 🙂

Buku ini menceritakan tentang kehidupan lingkungan sekitar dari anak berusia 8 tahun. Tetapi jangan khawatir buku ini tidak kekanakan walaupun diceritakan dari sudut pandang anak usia 8 tahun.

Diceritakan disini bagaimana ayahnya yang seorang kulit putih membela seorang yang kulit hitam.Ayahnya seoranga pengacara. Masa itu adalah masa  dimana kulit hitam dianggap rendah dan tetap dianggap sebagai budak.Bahkan sekarang pun hal-hal seperti ini masih terjadi di sekitar kita. Saya bahkan terkadang tak nyaman, ketika bertemu orang yang langsung sibuk menanyakan saya suku apa, agama saya apa dan bla-bala. Dan buku membuat hati saya hangat. Ada kutipan dalam buku ini ” Hanya ada satu jenis manusia yaitu MANUSIA”. Tak perduli apa warna kulitmu, apa agamamu, seperti apa logat bahasamu , Manusia ya manusia.

Atticus dalam buku ini membuat saya percaya orang baik masih ada dan masih banyak. Bahkan dia bisa tetap yakin membela orang kulit hitam yang saat itu jarang dilakukan.Bahkan dia mengajarkan kepada anak-anaknnya bahwa semua orang berhak mendapat hak untuk dibela dengan proporsi yang sama.

Buku ini  juga membuat saya teringat pada saat saya masih kecil, saya takut pada tetangga saya yang biasa dipanggil “Wak Nero”. Karena wajahnya mengerikan dan jalannya terpincang-pincang. Orang-orang bilang dia  adalah penculik anak-anak. Coba bayangkan betapa kita sering kali menyebabkan prasangka yang buruk pada seseorang yang membuat orang lain di pandang mengerikan. Banyak orang tua di lingkungan saya  mengatakan “awas nanti ada wak Nero ” hanya agar anak-anak mereka tidak main di luar, atau agar mau makan atau agar tidak berisik. Bayangkan temans, mereka para orang dewasa telah membuat saya yang anak-anak dan teman -teman saya yang lain menjadi menganggap wak nero monster hanya karena banyak orang tua yang  mengatakannya kepada kami. Walaupun Bapak saya tidak pernah melakukannya, tetapi hampir seluruh orang tua melakukannya. Dan setelah saya  besar, saya menyesalinya. Rasanya saya ingin memberikan Wak Nero sesisir pisang yang dulu pernah disuruh bapak saya untuk diberikan  ke wak nero, tetapi tidak saya berikan karena saya takut. Karena saya pikir dia monster pemakan anak-anak. Saya ingin meminta maaf pada wak Nero, tetapi tentu sudah tidak bisa lagi. Wak nero sudah meninggal.

Yah, buku ini  menurut saya buku penghangat hati. Masih  banyak orang baik di dunia ini.Ya, saya tidak terlalu banyak ingat detail buku ini.  Tetapi saya  ingat bagaimana perasaan saya ketika membaca buku ini. Dan bagaiman saya berpikiri lebih terbuka tentang orang-orang di sekitar saya.

Menurut saya 5 dari 5 bintang deh.

Selamat Membaca Temans.

Salam

Vince Hutagalung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: